Sudah?

Sudah baik baik saja.
Coba bersyukur.
Lihat sejauh apa kamu sudah berjalan tanpa alas kaki.
Coba lihat ke belakang,
Sudah cukup jauh kan?
Sudah hampir tidak terlihat kan?
Coba lihat ke depan,
Sudah cukup dekat kan?
Sudah hampir terlihat kan?

Kalau melangkah balik arah
Juga sudah jauh
Dan dua kali
Buang tenaga

Maju lagi
Jadi susah

Jangan.

Terus saja
Angkat kepala
Langkah maju.

(*)




Be, be, be!


I know that some girls are very pretty some girls THINK they are just okay.

But it doesn't matter, find someone who would make you feel the prettiest.

And on top of that, you don't need anyone to tell you that you're pretty, you just need yourself to believe more in the beauty of the heart that glows inside and out.

So, be that free, be beautiful, the way you’re living your life is exactly the way it needs to be lived. And if only you’re living it, truly, and consciously the way you want to. 

Saksi dan Janji


Di depan saksi ombak yang menghampiri batuan dengan penuh gairah ini aku berikrar,

Bahagiaku
Dukaku
Laraku
Banggaku

Hanya boleh karena aku

Bukan karena dia yang menginjak harga dirimu
Bukan karena mereka yang mengendus kelemahanmu
Bukan karena bayangan yang menghalangimu

Malam ini aku berikrar

Kamu mampu hidup sendiri

Bahagiamu tidak bukan pernah karena,

Dan tapi

Hanya karena aku


Seorang.

----------

ditulis dan tertulis Oktober 2014.

Sanggahan

Orang-orang berlalu lalang 
Terburu-buru bukan main
Aku tidak mau terburu-buru
Tenang saja, aku masih di sini.

membiarkanmu mengintip pelan tentang aku yang tidak mereka ketahui,
aku melepasmu bebas mengetahui tentang aku yang tidak orang-orang pahami,
bicara tentang rahasia.

Memafhumi tiap dari ketakutanku,
Mengendus pekat inci-inci dari mimpiku,
Mengindrakan satu per satu dari keraguanku.

Aku mungkin dewasa,
tapi aku rindu rasanya mengalah.
Maka dari itu, aku minta maaf.
Aku belum dewasa.

Kita seimbang rupanya,
sama-sama belum dewasa.

Sumpah, aku benci kata menyerah.
Sungguh, aku lelah dengan terserah.
Sumpah, aku gerah berpura-pura.
Sungguh, aku lara merasa tidak cukup baik untukmu.

Merindukanmu adalah sebuah anugerah,
namun aku kehausan kemudian tewas tak berdaya di rerumputan
"Aku rindu masa lalu"
hal paling hina untuk dibahasakan,
harusnya masa lalu dibinasakan
simpan saja jadi kenangan

Akan tetapi, 
ya
aku rindu masa lalu.

Mencintaimu adalah sebuah kemudahan,
namun untuk bertahan aku sudah belasan kali mati di tengah jalan
aku sering bermimpi
satu hari di mana bumi masih berputar
orang-orang marah masih saling menampar
ada kamu di sampingku
siang itu murni terisi dengan cinta
tidak ada dendam,
air mata kecurigaan,
atau kemarahan yang dipendam.

Demi apapun yang berkuasa,
aku mencintaimu,
aku merindukanmu, 
aku membencimu. Bukan main.

Demi apapun yang berkuasa.

------------------

Good God, kenapa yang ini gelap sekali, ya? Bahkan beberapa part terpaksa saya hapus karena terlalu suram. :/

Oh, yang ini ditulis dan tertulis Agustus 2014.

Dan

Dan pada akhirnya
Aku tidak pernah percaya akan cinta

Dan pada akhirnya
Kertas-kertas yang ditulisi pena yang terukir kata-kata manis akan terbuang juga

Dan pada akhirnya
Bergabung dengan kumpulan rongsokan tulang ikan colongan si pus

Dan pada akhirnya
Cinta hadir hanya untuk dikhianati

Dan pada akhirnya
Tidak pernah ada kisah cinta semanis kisah khayangan

Dan pada akhirnya
Angin

Dan pada akhirnya
Tidak ada yang benar-benar peduli 

Dan pada akhirnya
Kamu sama busuknya dengan orang lain

Dan pada akhirnya
Semua manusia sama busuknya

Dan pada akhirnya
Begitu juga aku yang bau bangkai

Dan pada akhirnya
Tidak pernah ada senyum yang nyata jika kita bicara cinta

Dan pada akhirnya
Satu-satunya orang yang mati terbunuh membelaku adalah


aku.

Juni 2014

Izin

Selain beres-beres diri yang berantakan, hehe, tahun baru juga identik dengan beres-beresin folder dan file, entah di laptop atau handphone. Kemudian, I surprisingly stumbled upon some of my puisi atau coretan ringan yang.. sayang kalau cuma disimpan.

Kemudian, saya memutuskan untuk menaruh those depression letters, I would say, di blog ini. Most of them are written two or three years ago. Ada lebih dari satu, dua, atau bahkan tiga..,

maka, permisi!

The Urge


Jakarta, Ibu Kota kesayangan yang rumitnya bikin candu.

Aku pulang.

(*)

The Beginning, The Wound, (and the late night thoughts).


Writing a new year post in the beginning of the February will not be considered too late, right? ;)

Well no, this won't be that typical new year post, I hope. 

As some of you may know that I spent the whole January in the magical unbelievable India, the country that kept me awake every single night (a lie, as a matter of fact I slept soundly almost every night). I didn't have much time -- or I just decided not to spare my time to write there. But as always, I have my thoughts written inside my black journal that some of I might share here, to leave my perplexed thoughts scattered, yet captured.


Now please, if you excuse me, 

2 0 1 5.

Chaotic. Dua ribu lima belas, kalau ada penghargaan yang menobatkan pemenangnya menjadi tahun paling chaos, aku persilakan dua ribu lima belas maju ke depan panggung dan menggandeng pulang pialanya. 

Dramatic. Dua ribu lima belas, seperti tahun-tahun sebelumnya, pula penuh drama-drama yang sebenarnya episode lanjutan dari season yang sudah lalu. He-he. Hingga akhirnya di tahun ganjil satu ini juga, aku memutuskan untuk menyudahi drama yang kemudian menyadarkanku, bahwa ternyata dunia itu lebih luas dari sekedar 'ruang TV' tempat aku mengurung diri selama beberapa tahun silam.

Dua ribu lima belas membawa banyak perubahan, selain lulus dari masa yang katanya paling indah alias SMA, lalu melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Tahun ini juga berhasil memaksaku untuk jadi dewasa, dan belajar menelan konsekuensi dari keputusan yang aku bulatkan sendiri. 

But at least that I knew, all of those crrrazy bad things can stay in 2015, and I can get a fresh new start in 2016. Then in the very last month of 2015, I flew to India, the country of paradox, they say. I wouldn't lie, the main reason that I packed my things to travel there is for a soul-searching journey. I was too busy questioning myself, what am I looking for in India? What has 2015 taught me and what part of me that I should change in 2016? What kind of answers that I need to bring back to Jakarta? What's this what's that how's this how's that.. 

To be frankly honest, I didn't find any. Well yeah, you can say I have noted some things, I have gained some new perspectives, I definitely have earned a bunch of great stories and experiences, but I didn't really find what I was looking for. I didn't really find the serenity that I've been longing, I didn't find the cure to the wound that 2015 left me. I can't expect that having myself thousand miles away from the city that keeps resurrecting the old memories will automatically, magically, remove all the wounds or just like, voila, I'm all fine. 

That''s what I kinda learn. People tend to run away from their wound, they choose to flight, they choose to forget the cut that slit their skin open and pick out the nearest bandage possible to cover the wound. How do you expect that wound to recover completely? You're not even trying your best, you decided to put a bandage on a wound that keeps bleeding, it's the same as having Placebos to cure cancer. It's not doing a thing, literally. 

That, again, is what I learned. I made a mistake, I chose to flight, instead to fight. Aku memilih untuk pura-pura amnesia, mengabaikan darah yang masih mengalir, pura-pura sehat, dan jalan-jalan kesana kemari. Uh, salah, banget, kan? Denial will only make it worse. Acceptance is the key. As a best friend of mine told me, happiness is a state of mind. Hell, even if I'm traveling to outer space, semuanya nol besar kalau yang di kepala sama yang di hati belum beres. 

Serenity and peace that I wish I'd have back from India, datangnya ya bukan dari India. Akan tetapi, harus datang dari diri aku sendiri, yang dimulai pertama-tama dari mengangkat plester boongan yang nempel di luka, berani menerima kenyataan kalau luka itu memang masih ada, masih dalam, dan masih berdarah. And the only way to get rid of it yaaa.., nerimo. Tarik nafas panjang, karena kena air sedikit pasti masih sakit, namun memang harus dibersihkan dengan air, atau alkohol. Soalnya hampir membusuk, dibiarkan terlalu lama. Tidak akan mudah, tapi paling tidak, memahami betul bagaimana cara menangani luka ini adalah tahap pertama untuk menyembuhkannya. 

Maka,

mari bersulang untuk luka yang belum kunjung sembuh,

mari bersulang untuk luka yang lama diacuh,

mari bersulang untuk luka yang mungkin semu.

2016.


The Letter to Anyone and Yourself.


This letter goes to anyone who's been thinking that they're alone, broken-hearted, depressed, and feeling like no one's picking up the phone when you need them the most.

This letter goes to anyone who find curling up in bed drowning in sadness of nostalgia is better than actually breathing the fresh air outside the room.

This letter goes to you, who stumbled upon this writing. This isn't a coincidence, that's universe giving you a hint to wake up and move on, to let yourself go from anything that makes you miserable.

Hi there, I know you're in a really deep cut, I know you've been feeling small, I know you thought you're no longer friends with 'hope', I know you're close to giving up, I know you're about to accept that you'll bring sadness to your way of living.

I've been there, I have once thought that maybe, this sadness of mine won't ever go away and I almost let myself to accept 'sadness' in a wrong way. I thought, maybe it's better for me to live with this scar than having the must to remove it.

But then, out of the desperation notes and letters that's piling up on my desk, a thing or a two crossed my mind. Letting sadness to be within you, is not accepting. It's because you're weak, you're not brave enough to leave what made your eyes tear and your cuts bleed behind, to throw the thoughts in your head that rip you apart. Darling, you're killing your mental slowly.

You're lack of your self-worth awareness. You're too busy figuring out how to move on from anything that's been haunting you, you're too busy hiding from anything that's been chasing you, you're too busy fighting from anything that's been hassling you. Then you feel tired, you feel hopeless, that's nearly the point where you thought maybe you'll just have to accept that you'll never move on. And the only choice you have is to live with those demons in your head.

Meanwhile.. the very first thing to step out of the sadness and the insecurities is to love yourself. Don't push yourself too hard, don't need to buy a How To book. You just need to love yourself more. I know it sounds cliche, but there's a reason why people write about the importance of loving yourself all the time.

Because, it is actually the answer to every alone, broken-hearted, depressed souls' been questioning.

Here, dear You.

Date yourself. I know you've reached the point where the idea of being alone enjoying the grief is better than anything. But until when will you let yourself being overwhelmed by the past, singing to the lyrics of those so related sad songs and stop yourself from being 'you'?

Sweetheart,

say 'Hi' to yourself, when was the last time you had your own quality time with yourself? Quite a time ago, I suppose? Go, it's your reconciliation time with yourself, have a cup of chamomile tea with yourself,  talk about yourself as long, as much as you want, yourself won't get bored anyway.

Date yourself, make love to yourself, send good night texts to yourself, praise yourself, send yourself flowers, send yourself your favorite chocolate, because the only one who can treat you the way exactly you want to be treated is yourself. Be selfish, be un-selfless for a while.

You, you're young, you're bright, you're beautiful, every inch of you is perfect just the way it is.
You, you're about to walk on sunshine, and don't let anyone get in your way. Don't.

You, I know you're feeling lonely, but then, it isn't that bad to be alone. Solitude is a bless, they say. No, being alone isn't that pathetic. Because in the end, no one will be there for you, but you. Everyone's eventually busy with themselves.

And it's good knowing that you're always gonna be there for you, no one else, just you.

Once you get to know yourself, you'll slowly see the real potential in yourself. You won't be feeling that lonely anymore. Because again, it's such a bless knowing that someone will always be there for you, which is yourself.

Get to know yourself better, have a deep conversation with yourself, oh for Goodness' sake, do you even remember your favorite color? Do you even remember those little things that make you happy, like the smell of your Grandma's freshly baked cookies?

The moment you start to admire yourself, write yourself a love letter. Or love letters. Be in love with yourself, no one will be jealous. Instead, you HAVE to be in love with yourself. That matters.

And next time you're feeling lost, just remember, you can always count on someone, which you called, Yourself.

I promise you, you will always be your home, your comfort zone, your source of warmth. You don't need to find those in anyone else, because you'll always have you.

Now please, acquaint yourself. Take a look in the mirror, --whoa, look at those eyes of yours. They glow universe, stare yourself deeply, swim into it.

You'll find a pure soul, a soul that won't hurt you no matter what,

Yourself. Have a moment with yourself.

Cheers,

an encouragement from myself to I,

for you and yourself.

Ibu, Aku Pamit ke Jakarta

Ibu, aku pamit ke Jakarta..
Surat ini kutulis dengan air mata yang tak berhenti mengalir deras, bu..
Pena pun tak kuasa aku pegang dengan benar tatkala jemariku bergetar tidak karuan..
Maaf ya, bu, kalau tulisannya susah dibaca.. Manapula beberapa kata luntur terkena tetes air mata..

Ibu, badanku menggigil bukan main sembari merangkai kata-kata di surat ini
Anyaman bambu dinding rumah kita mulai menipis dan bolong-bolong ya, bu..
Sedih lihatnya.. Aku tidak mengeluh, bu, tapi aku kasihan sama si Bungsu..

Si Indri, bu.
Di sampingku ia terlelap pulas,
Aih.. Cantiknya adikku yang satu ini, kulitnya kuning langsat, berkilau kalau kena sinar matahari.
Ibu, pesanku, Indri jangan sampai putus sekolah.
Suatu sore waktu Pak RT bagi-bagi mangga, aku mendengar cerita-cerita Indri tentang impiannya..

“Aku ingin jadi dokter, mbak.
Biarin aja kata orang mimpiku ketinggian, ibunya cuma buruh cuci, eh, kepengen jadi dokter.. Katanya nggak mungkin, mbak.”
Sembari mengupas mangga, Indri menuangkan keraguannya padaku, Bu..

Kemudian, aku yang bingung hanya mampu menjawab,
“Mungkin, Indri. Celotehan orang lain nggak usah didengar, yang penting kamu rajin belajar.
Kalau Indri punya kemauan, pasti ada jalan..”

Ibu, aku pamit ke Jakarta..
Izinkan aku mengadu nasib,
Restui aku mengubah nasib,
Maaf ya, bu, kalau hanya meninggalkan surat ini.. menulis di secarik kertas saja sudah terkuras air mataku tak keruan, bu..
Gimana kalau harus berpamitan sambil menatap mata Ibu yang sayu?

Ibu, aku pinjam dulu koper yang dulu Ibu gunakan untuk berangkat ke Negeri Jiran..
Koper yang ibu simpan di dekat kandang ayam yang isinya malah sarang laba-laba,
Ibu bilang benci lihat koper ini,
“Ibumu jadi ingat saat-saat diperlakukan seperti hewan. Simpen koper ini di belakang, nduk.”

Puji Syukur ya, Ibu..
Ibu bisa membebaskan diri dari jeratan dan rentetan siksaan majikan Ibu..
Aku masih ingat saat menjemput Ibu di Terminal Rajekwesi dua tahun silam,
Bisa menyentuh Ibu lagi, walaupun banyak bekas luka dan lebam di seluruh tubuh Ibu waktu itu…

Ibu, aku pamit ke Jakarta..
Entah makan apa,
Entah tidur di mana,
Entah pakai baju apa..

tapi aku mohon Ibu jangan khawatir, ya..
Bilang pada Indri aku pasti kembali,
Ibu juga, harus yakin bahwa aku kembali..

Ibu, aku pamit ke Jakarta. (*)



Bayangan




langsung saja kemudian aku marah,
terus saja lalu aku bertanya seribu.

kapan gelap, kapan awan ini menjauh?
kapan beling, kaca ini rapih?

kutatap nanar bayangan dia di kaca
tanpa sehelai benang atau sutra dia berdiri
belikat-belikatnya tajam menonjol,
rusuknya tipis-tipis dibungkus kulit.

kemudian wajahnya,
pucat,
hitam bulat mengantong di bawah kedua matanya,
dia lelah.

langsung saja kemudian dia menangis,
terus saja lalu dia bertanya miris.

'siapa aku?'

'siapa aku?'

diulangnya berkali-kali,
pelan.

agar angin diam berbisik desir tak terdengar.

masih kutatap nanar bayangan dia di kaca
tanpa secarik senyum atau tawa dia berdiri
belikat-belikatnya tajam menonjol,
rusuknya tipis-tipis dibungkus kulit.

'siapa dia?'

'siapa dia?'

diulangku berkali-kali,
agak keras.

kusentuh bayangan dia lewat kaca, 
jemariku mengelus bayangan dia,
datar.
tak berbentuk.

hanya bayangan dia kaca.
bayangan dia,

dia--aku.

16th September 2012

[di.]

[di.] adalah satu karya buatku yang punya tempat spesial di hatiku. 
[di.], entah kenapa, adalah satu karya yang kubanggakan.
[di.] aku tulis tiga tahun silam, sampai saat ini aku belum lagi menyelesaikan satu cerita pendek. Mungkin karena aku terlalu terkagum-kagum pada [di.]
Inspirasi [di.] datang dari.. aku lupa, mungkin dari Tuhan yang membisikan kata-katanya lewat angin sore.

Nikmati [di.]
Mungkin sebenarnya tidak secantik yang kugambarkan,
namun,
aku senang kalau ada yang baca. :)


[di.]

Pasar malam, di tengah kumuhnya Jakarta, dihimpit gedung tinggi pencakar langit berdebu.
Di depan karosel berkarat yang lampunya redup dan remang.

  Dia gelisah. Duduknya tidak nyaman, tas Tommy Hilfiger baru pemberian Om Andy ditaruh di atas pahanya yang terbuka. Berusaha untuk menutup-nutupi dan menghindari tatapan-tatapan mesum dari abang-abang sekitar.
    Mungkin sekitar tiga atau empat tahun lalu, Andini—namanya—akan dengan senang hati duduk dengan posisi seksi, kaki agak dibuka sedikit, memamerkan paha remajanya. Awalnya, menjadi seorang pemuas hasrat seksual samasekali bukan cita-citanya. Ayolah, siapapula yang pernah menuliskan cita-citanya menjadi seorang kupu-kupu malam? Andini? Teman-teman seperjuangan Andini?

***

 CI..TA.. CI..TA. Cita-cita.
   Dua patah kata sambung tersebut tertulis dengan huruf bulat-bulat besar dan rapih, tertoreh dengan serpihan putih kapur di atas papan tulis hijau kelas. Hijaunya gelap, dekil. Andini kecil memicingkan matanya, berusaha mempertajam bacaannya. Cita-cita.
    Andini tahu betul arti dari delapan huruf yang mungkin, tidak kebanyakan dari temannya tahu. Tumbuh di lingkungan pinggirannya pinggiran Jakarta membuat anak-anak seumur Andini tidak mendapat hak yang seharusnya. ‘Yang penting makan, yang penting pakai baju.’, bisa jadi prinsip yang digenggam orang tua mereka. Sekolah juga kalau tidak gratis, langitpun yakin, Andini dan bocah ingusan lainnya belum tentu kenal baca maupun tulis, pula hitung.
    Makanya, waktu Ibu Guru bicara tentang cita-cita, pesawat kertas masih melayang di udara kelas butut tanda perhatian pelajar-pelajar ciliknya belum terpusat pada papan tulis hijau di depan. Empat puluh tiga dari empat puluh empat anak di kelas yang Ibu Guru tidak hapal namanya—dan agaknya, beliau malas menghapalnya juga—melirik selirikpun enggan. Empat puluh tiga dari empat puluh empat.
Sisa satu anak, Andini, yang matanya masih tertegun ke depan. Menelaah goresan pergoresan kapur dalam kata ‘cita-cita’ di depan. Seakan ditusuk tatapan Andini dari belakang, Ibu Guru tersenyum kecil. Membenarkan kacamatanya yang turun di hidung peseknya, berharap paras Andini akan terlihat lebih jelas.
Duduklah Ibu Guru di samping bangku Andini, lalu mulutnya terbuka.. diceritakanlah Andini kecil tentang apa itu cita-cita, dan apa makna cita-cita..
Di dalam kelas sekolah gratis, sembilan atau sepuluh tahun silam, ditemani debu-debu nyata yang disinari matahari Ibu Kota, diiringi pesawat kertas malang melintang di udara kelas, Andini kecil dan Ibu Guru tenggelam dalam cerita mereka tentang cita-cita.

***

[Kembali] Pasar malam, di tengah kumuhnya Jakarta, dihimpit gedung tinggi pencakar langit berdebu.

Di depan karosel berkarat yang lampunya masih redup dan kian makin meremang.
Tertegun sendiri Andini. Tiba-tiba dadanya sesak. Ditariknya napas mendalam perlahan. Merekam sosok Ibu Gurunya yang membawa ia pada perkenalannya dengan ‘cita-cita’, Andini merasa bersalah bukan main.. masih suka teringat betapa antusias si Ibu Guru mengisahkan tentang ajaibnya cita-cita, apapun cita-citanya. Bahwa, penting jadi orang penting. Jadi orang berguna. Yang pasti bukan jadi seperti Andini, seorang.. bahasa manisnya, kupu-kupu malam. Simpanan pejabat-pejabat tinggi yang merendahkan harga diri Andini.
Memutar otaknya kembali pada kenangan-kenangan silam selalu dihindari Andini. Buatnya, itu sama saja dengan membuka luka lama yang tak kunjung kering. Berusaha mengalihkan perhatiannya akan sakit dari ruang nostalgia yang tadi ia tengok, dilihatnya sepuluh jari lentik punyanya...
Percumaaa, Tuhan.
Kepala Andini kembali memaksanya mengingat satu sosok lagi, yang satu ini pasti akan mengamuk dalam diamnya jika tahu jalan pilihan Andini. Satu sosok yang suka, suka sekali, memanggil Andini, Di.
***
Kota Tua, di Jakarta juga, Batavia nama lamanya. Bangunan-bangunan gaya Belanda bukti bekas jaman kebodohan Tanah Air yang sayangnya, indah.
Di tangga, pokoknya, suatu tangga di Batavia lama. Lalu lalang turis dengan sepeda onthel sewaan.
 “Emangnya.. Mas Abdul mau kemana?” sambil bertanya, mata Andini menatap jemarinya yang sedang digenggam Abdul.
Tidak perlu tahu siapa Abdul dan darimana dia, singkat cerita, lelaki berparas Jawa manis ini sukses menggaet hati Andini.
 “Aku mau jadi orang, Di.”
“Emangnya... sekarang Mas Abdul bukan orang?”
“Ya, aku orang, Di. Sampeyan juga orang. Mas Abdul ini.. mau jadi manusia, Di.”
“Aku kira nggak ada bedanya, mas, manusia sama orang..”
“Di, kamu ini bego apa dibego-begoin, sih... aku mau jadi orang, manusia, Di. Buatku sekarang, aku ini belum jadi orang, Di. Kerja serabutan, ilmu aku cuman bisa baca tulis, hitung juga cuman hitung sayur. Aku mau ndalami ilmu agama, Di. Kalau memang aku ndak punya lagi kesempatan untuk ndalami ilmu sekolah-sekolah, aku tau Gusti Allah pasti akan terus membuka jalan hambaNya untuk belajar, tho?”
            Andini mengangguk..
“Di.. Di juga mau, mas, jadi orang, jadi manusia..” bisik Andini pelan, tapi pasti.
“Lha, emangnya kamu bukan orang? Bukan manusia?” ledek Abdul. Bibir tipis Andini terbentuk tawa, dipukulnya gemas bahu Abdul.
      Belum sempat Andini melanjutkan maksudnya, Abdul sudah duluan membuka mulut,
“Kamu ndak usah aneh-aneh, Di.. mas senang kamu punya mimpi juga. Tapi, ya.. mas lebih senang kalau kamu belajarnya.. selayaknya perempuan aja, Di. Biar nanti aku balik-balik dari pesantren, siap jadi Ustadz, aku bisa keliling ceramah, nanti nafkah keluarga kita dari situ aja. Di, yang cuaanteek ini jaga rumah, jaga anak-anak nanti.. mau kamu, Di?”
            Andini tersipu, sedikit. Bicaranya Mas Abdul seakan yakin betul, kedua pasangan yang tengah menjalin kasih itu memang akan jadi sepasang teman hidup. Bersama Abdul, cita-cita Andini, jadi orang berguna, bukan tak mungkin terwujud. Menjadi ibu rumah tangga yang mampu membahagiakan suami dan anak-anaknya, juga orang berguna ‘kan?
 “Berapa lama Mas Abdul nyantren? Berapa lama Di harus nungguin?”
“Ya.. Di, empat sampai lima tahun, deh. Tapi, sampeyan janji nungguin aku. Jangan kemana-mana. Di juga sedikit-sedikit ikut ndalami ilmu Islam, biar nanti anak-anak kita imannya kuat.”
            Mengangguk. Lagi. Andini mengangguk lagi, dengan manisnya. Lalu tertuju pada genggaman tangan mereka berdua,
“Mas Abdul, kalau mau jadi anak pesantren, nggak boleh pegangan tangan sama yang bukan muhrim, lho..”
Spontan, tangan mereka pelan terpisahkan. Keduanya kemudian menatap bulan di atas, padahal tidak jelas, kelabu tertutup awan polusi. Namun, satu bulan ini yang akan menjadi satu-satunya pelepas rindu Andini nantinya..
***
[Masih di..] Pasar malam, di tengah kumuhnya Jakarta, dihimpit gedung tinggi pencakar langit berdebu.
Di depan karosel berkarat yang lampunya tetap redup dan remangnya menguning mirip senja.
Teringat lagi Andini terhadap janji-janji yang ia ingkari. Makin jijik Andini pada dirinya sendiri. Hanya diminta menunggu lima tahun, Andini tak kuasa. Keinginan dan rasa tanggung jawabnya akan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri membuat ia ayo aja saat sadar dirinya terjebak di lingkaran sisi gelap Jakarta.
            Hanya diminta mendalami ilmu agamanya sendiri, semangat Andini tak terang. Sama tidak terangnya seperti karosel yang daritadi ia belakangi, sembari menunggu Om Amar menjemputnya. Iming-iming sepatu baru dan uang jajan lebih berhasil menarik Andini jatuh lebih dalam ke magnet dunia malam. Ironisnya, menjadi seorang pekerja seksual tidak pernah menjadi masalah untuk kedua orang tua Andini. Kemiskinan dan kemelaratan berpuluh tahun membutakan mata orang tua Andini.

            Kemiskinan dan kemelaratan warga Jakarta sekelas Andini yang terkena getahnya tikus-tikus berdasi. Tikus-tikus berdasi yang sekarang rutin menjadi klien Andini. Ah, ironis. Rasanya, hidup Andini dan keluarganya benar-benar berada di atas tangan tikus-tikus laknat..
            Cuman Mas Abdul yang menghargai Andini sepantasnya seorang wanita dihargai. Mas Abdul.. yang kabarnya hilang ditelan gelap. Lewat lima tahun, Mas Abdul tak kunjung balik menjemput Di, tak kunjung balik, mengajak Di membangun keluarganya sendiri.
            “Belajar pesantren apa kabur..” Andini menggumam kecil sambil membenarkan tatanan rambutnya.
            “..Andiniii..” tepukan mesra di bahu Andini membangunkan bulu kuduknya. Ia menengok pelan.
            “Oooh, Om Amar! Lama banget, sihhhh, om..” Andini memanja-manjakan nada suaranya. Makin jijik, jijik lagi Andini pada dirinya sendiri.
            “Iya, maaf, ya. Abis, supir baru. Aku ketiduran sebentar, dia langsung nggak tau arah.. katanya lama di Jawa, lupa dia sama seluk beluk Jakarta..”
            Tersenyum, kemudian Andini bangun dari duduknya. Disambut rangkulan Om Amar di pinggang, Andini berjalan. Pikirnya masih melayang akan Abdul.. dan Ibu Guru. Bertanya Andini, kenapa ujuk-ujuk kenangannya terbuka lagi setelah lama digembok, di pojok ruangan batin Andini.
            “Kamu nanti marahin aja, yaa, supir baruku, Andini. Gara-gara dia, tuh, aku jadi telat..”
Om Amar ngawur sembari membukakan pintu belakang sedan BMW-nya. Gelapnya dalam mobil menyala dengan terang dari lampu otomatis. Refleks, si supir baru yang sedari tadi disalah-salahkan Om Amar menengok kebelakang,
            Andini terbelalak.

            “Mas Abdul?” (*)

11th November 2012

Beratapkan Monas


Bukan mau mereka bekerja tanpa alas kaki,
di usia belia yang harusnya dihabiskan sambil bermain-main,

Tapi tuntutan nasib yang mengharuskan mereka mengais rejeki dari orang-orang sekitar.

Buat mereka,
ini bukan masalah.
Yang penting makan, yang penting kenyang, yang penting hidup.

Buat mereka,
ini bukan masalah.

Padahal jelas ini masalah.

Bekerja di bawah umur, padahal jelas orang tuanya mengetahui hal tersebut.

Bukankah satu-satunya kewajiban yang harus mereka jalani ialah belajar?


Ke mana mata pemerintah dan para petinggi negara yang sudah mestinya menaungi mereka pada kehidupan yang nyaman, bukan hanya beratap Monas di malam yang bising?(*)


---------

'Beratapkan Monas' adalah puisi yang dibuat dalam waktu kurang dari 15 menit.. Hehehe. Sebenarnya puisi ini adalah teks film dokumenter tugas pelajaran Sosiologi waktu SMA,
tentang anak-anak jalanan yang ngamen malam-malam di Monas.

Aku lupa nama-nama mereka, tapi aku ingat malam itu kami duduk bareng sambil makan pop mie. Adik-adik itu senang bukan main ada yang 'menganggap' mereka sebagai manusia. Mereka cerita tentang rutinitas ditangkap Satpol PP, iya, rutinitas. 

Duh, jadi penasaran,
video dokumenternya disimpan siapa ya? ;(


4th July 2013 

Marriage


OK so..' then he sips a lump of his coffee. His eyes gaze at mine, ominously but still glaring a smile. A forced smile, actually.

'What is it..?' I obviously can smell the burn of a little fire starting. This musn't be good. I remember that stare! The stare he gave to me many years ago every time I made a teeny weeny trouble and he found out. The stare that makes me feel like I'm a five year old girl in her piggy-tail hairdo, it brings my eyes kind of teary and frightened. The stare tells me, 'I've done something not right.'

He's implacable. In fact, he looks quite scary. Before I have the guts to look back into his eyes, he opens his mouth, I galvanized at the moment. He's starting to fire back at me,

'Do you think you love him?'

God, a head shot. I twist the ring of diamond strands round and round my right-hand finger. Do I love him? ..What is love, I ask myself. How should I define 'love', anyway? How should I convince myself, I LOVE him? It's supposed to be a question that should've been easily and quickly answered by a 26-year-old lady who is getting married by the next 3 days.


But why can't I?

4th July 2013 

—

Perasaan ini sukar sehabis nyawa untuk dijelaskan.

Aku juga bersumpah tak tahu menahu datangnya darimana. Perasaan ini berkecamuk pasti di beluk jiwa yang pelan membusuk di dalam. 

Tapi,

biar yang pernah indah tetap jadi indah. 

Karena walaupun silam pernah hadir,

jika sudah sedikit terhapus,


tak akan sama sekalipun ditulis ulang..

22nd October 2013